![]() |
| [Foto oleh Sigid Kurniawan | kalteng.antaranews.com] Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti selalu melihat konflik yang terjadi di lingkungan sekitar, entah itu konflik antar individu maupun konflik antar kelompok sosial. Nah, artikel kali ini akan membahas mengenai konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat, sehingga dengan mempelajari konflik akan mampu menghindarkan dari kekerasan. Untuk itu, yuk simak materi tentang konflik berikut! Definisi Konflik Secara sederhana, konflik disebut sebagai perselisihan atau pertentangan yang dapat terjadi antar individu maupun kelompok. Konflik merupakan bagian dari dinamika masyarakat yang menjadi produk atau konsekuensi dari interaksi sosial dan perubahan sosial. Ahli Sosiologi seperti Soerjono Soekanto mendefinisikan konflik sebagai proses sosial yang terjadi antara individu maupun kelompok, yang mana mereka saling berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan cara menentang pihak lawan, disertai dengan ancaman dan juga kekerasan. Dengan kalimat lain, konflik adalah sebuah proses sosial yang berbentuk pertentangan antara persorangan maupun kelompok, yang mana keduanya berusaha untuk mencapai tujuannya masing-masing, entah berupa nilai, status, atau kekuasaan, yang disertai dengan ancaman dan kekerasan. Konflik tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi dapat terjadi dalam batin yang disebut konflik batin. Konflik batin disebabkan oleh adanya dua atau lebih gagasan yang saling bertentangan untuk menguasai diri sehingga memengaruhi tingkah laku. Konflik tidak selamanya menimbulkan dampak negatif, konflik juga dapat membawa sejumlah dampak positif, seperti meningkatkan solidaritas hingga menciptakan norma baru dalam masyarakat. Penyebab Konflik Soerjono Soekanto menyebutkan beberapa faktor penyebab konflik, sebagai berikut:
Seringkali kebudayaan dianggap sebagai sebuah ideologi, yang mana ideologi dapat menimbulkan konflik sosial dalam masyarakat. Anggapan yang berlebihan terhadap suatu kebudayaan tersebut oleh sebuah kelompok menyebabkan kebudayaan masuk ke dalam sebuah tingkatan sosial. Hal tersebut menimbulkan perasaan bahwa kebudayaan milik sendiri dianggap lebih tinggi daripada kebudayaan lain. Konsep suku dan kebudayaan telah tercatat dalam sejarah bahwa keduanya memainkan peran penting dan dramatis dalam percaturan masyarakat.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki karakter tersendiri yang membedakan satu sama lain walaupun mereka berada dalam lingkungan yang sama. Dalam proses perkembangannya, individu akan berinteraksi dengan sesama, dan dalam prosesnya tersebut akan mengalami proses adaptasi dan pertentangan dengan individu lainnya. Sehingga, jika terdapat ketidaksesuaian maka dapat dipastikan akan timbul konflik diantaranya.
Dalam interaksi sosial, manusia melakukan proses pergaulan dengan orang lain agar mencapai kebutuhan batiniah dan lahiriah yang dapat membentuk dirinya, dan terjadi hubungan timbal balik di dalamnya, sehingga manusia disebut sebagai makhluk sosial. Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia satu dengan manusia lain memiliki kebutuhan yang berbeda, dan kebutuhan tersebut akan berubah menjadi perbedaan kepentingan. Sehingga perbedaan kepentingan itulah yang akan menimbulkan konflik.
Perubahan sosial merupakan produk dari interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari antar individu. Dalam lingkungan masyarakat yang tidak menerima perubahan sosial akan muncul konflik sebagai bentuk pertentangan terhadap nilai dan norma yang tidak sesuai dengan yang dianut oleh masyarakat. Bentuk-bentuk Konflik Soerjono Soekanto membagi konflik menjadi beberapa bentuk, sebagai berikut:
Konflik ini terjadi pada individu-individu yang disebabkan oleh masalah pribadi. Masalah tersebut terjadi dikarenakan terdapat perbedaan cara pandang antar individu mengenai persoalan yang sama. Contohnya, ketika terdapat dua individu atau dua teman akrab yang saling beradu argumen bahkan saling menjauhi karena mereka mendukung calon bupati yang berbeda. Masing-masing dari mereka merasa pandangannya yang paling benar dan tidak menerima sudut pandang yang lain.
Konflik politik terjadi karena adanya kepentingan yang berbeda antara seseorang atau kelompok. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan ideologi atau kepentingan politik masing-masing. Contoh yang paling mudah ditemukan dari konflik politik adalah konflik yang terjadi antara pendukung partai yang berbeda menjelang pemilu.
Konflik rasial merupakan konflik yang terjadi pada kelompok ras yang berbeda dikarenakan kebudayaan yang saling bertentangan. Konflik ini bisa kita jumpai pada etnis minoritas Rohingya (mayoritas Muslim) di Myanmar yang sering menghadapi diskriminasi dari mayoritas Buddha Rakhine dan pemerintah Myanmar.
Konflik ini muncul disebabkan adanya perbedaan kepentingan antara kelas-kelas yang terdapat dalam masyarakat. Konflik antar kelas sosial dapat dijumpai pada karyawan yang menuntut atasan atau perusahaannya untuk menaikkan upah atau gaji karyawan.
Seperti namanya, konflik ini melingkup beberapa negara yang disebabkan kepentingan yang berbeda antara negara satu dengan negara lain. Contohnya adalah konflik yang sampai sekarang masih berlangsung, yakni konflik antara Israel dan Palestina, atau konflik yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. Penyelesaian Konflik Konflik bukan satu-satunya kenyataan dalam masyarakat. Pada dasarnya, masyarakat mempunyai berbagai upaya untuk meredam konflik yang terjadi dalam kehidupannya. George Simmel menawarkan beberapa penyelesaian konflik, yakni kemenangan, perundingan, rekonsiliasi, saling memaafkan atau damai, dan pencapaian sepakat. Upaya-upaya masyarakat untuk meredam konflik dijelaskan sebagai berikut:
Contoh Konflik
Konflik ini disebabkan oleh ketidaksepakatan dalam pembagian hak suara yang memakai sistem noken, yang mana satu pemimpin atau perwakian suku menentukan suara untuk seluruh kelompok. Perbedaan pandangan antara dua kelompok warga adalah faktor yang memicu bentrokan dan mengakibatkan setidaknya tiga orang meninggal dunia termasuk pendeta, sementara yang lain mengalami luka-luka. Perselisihan ini merupakan pemicu utama terjadinya bentrokan tersebut, bahkan berlanjut sampai pemilu telah selesai.
Konflik di Sudan merupakan perang saudara yang terjadi pada April 2023 dan sampai sekarang masih berlanjut. Perang ini terjadi antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dengan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang memperebutkan kekuasaan. Perang ini berimbas pada kekacauan situasi politik negara yang tidak stabil, munculnya penyakit dan kelaparan massal, dan jutaan orang mengungsi. Konflik ini telah berhasil menciptakan krisis kemanusiaan yang mendalam.
Perusahaan tekstil besar seperti PT Duniatex menghadapi masalah finansial pada tahun 2020-2021 (era covid-19) yang berimbas pada penundaan gaji dan phk sepihak tanpa uang pesangon yang sesuai. Beberapa kali karyawan sudah melakukan unjuk rasa dan mogok kerja sebagai wujud tuntutan atas masalah pembayaran upah dan juga uang pesangon yang tidak layak. Negosiasi panjang dilakukan dan disepakati bahwa sebagian gaji yang tertunda akan dicicil dan sebagian karyawan yang di phk akan mendapatkan uang pesangon meskipun kurang sesuai dengan harapan. Konflik merupakan sesuatu yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat, karena ia merupakan hasil dari interaksi sosial. Konflik terjadi karena beberapa perbedaan, seperti kepentingan, kebudayaan, atau juga karena karakter individu. Meskipun dianggap negatif, konflik juga dapat membawa dampak positif seperti meningkatkan solidaritas atau menciptakan norma baru. Konflik yang terjadi dalam masyarakat memiliki beberapa bentuk, mulai dari konflik pribadi, politik, rasial, hingga konflik internasional. Beberapa contohnya sering kita temui disekitar lingkungan kita, bahkan kita sendiri juga sering terlibat dalam konfliknya. Penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan musyawarah, pendatangan pihak ketiga, dan perundingan untuk meredam kekerasan dan mencapai kesepakatan. Nah, demikian penjelasan mengenai konflik sosial dalam masyarakat. Dengan mempelajari konflik, kita dapat menjaga keharmonisan hubungan sosial sehingga tercipta keteraturan sosial dan mampu menghindarkan dari kekerasan. Semoga bisa dipahami dengan baik, ya! Referensi Elisanti. & Rostini, Titin. (2009). Sosiologi 2: Untuk SMA/MA Kelas XI IPS. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Heryansyah, Tedy Rizkha. (2025, 31 Januari). Konflik Sosial: Pengertian, Bentuk, Macam, dan Contoh | Sosiologi Kelas 11. Ruang guru. https://www.ruangguru.com/blog/bentuk-konflik-sosial-di-masyarakat |
