Estetika dan Hierarki: Kehadiran Beauty Privilege dalam Dinamika Kehidupan Masyarakat

[Foto oleh Anh Tuấn Lê | pexels.com]
Belakangan ini, muncul suatu fenomena di masyarakat yang berfokus pada penampilan seseorang yang dapat menentukan peluang seseorang dalam mengakses sesuatu. Fenomena ini berkaitan dengan salah satu materi yaitu Stratifikasi Sosial. Lalu, apa hubungan Beauty Privilege dengan Stratifikasi Sosial? Yuk, pelajari lebih lanjut dengan membaca materi di bawah ini!

Beauty Privilege dan Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial merupakan suatu pengelompokan masyarakat ke dalam setiap kelas tertentu. Setiap kelas dibentuk menjadi berbagai lapisan dari yang paling tinggi hingga rendah, sehingga menciptakan sistem kekuasaan dan juga kesenjangan bagi masyarakat dalam mengakses hak dan keadilan mereka (Maunah, 2015).

Salah satu contoh kehadiran stratifikasi sosial yang belakangan ini sering terlihat di masyarakat adalah “Beauty Privilege”. Berdasarkan fenomena tersebut, dapat dilihat bahwa stratifikasi sosial tidak hanya memandang kekayaan, pendidikan, atau kehormatan saja, tapi juga dapat muncul dari penampilan seseorang. Kecantikan dan ketampanan yang dimiliki seseorang di era ini dipercaya dapat membawa mereka untuk mengakses lebih banyak hal dibandingkan dengan beberapa orang yang dianggap kurang menawan. Bahkan, fenomena ini bisa ditemukan di dalam persyaratan yang tercantum di banyak lowongan pekerjaan dengan kata kunci “berpenampilan menarik”.

Beauty Privilege sebagai Bentuk Kekerasan

Beauty Privilege hadir sebagai hasil dari standar kecantikan yang ada di masyarakat (Rohanah dkk, 2022). Kriteria yang terdapat di dalam standar kecantikan inilah yang dijadikan sebagai acuan oleh beberapa orang dalam menilai kecantikan atau ketampanan seseorang. Sering kali penilaian melalui penampilan menimbulkan diskriminasi kepada beberapa orang yang dianggap tidak memenuhi kriteria tersebut. Mereka yang tidak memenuhi kriteria kecantikan akan dianggap jelek oleh penilainya dan terkadang akan dikritik dan bisa juga mencapai tahap dijauhi oleh orang-orang. Penilaian tersebut juga dapat memunculkan rasa rendah diri dalam diri seseorang atau saat ini seringkali disebut sebagai insecure. Rasa insecure muncul ketika seseorang merasa tidak bisa memenuhi ekspektasinya atau ekspektasi orang lain yang mengakibatkan rendah diri dan menjauhkan diri dari sekitarnya.

Berdasarkan pemaparan di atas, fenomena Beauty Privilege di masyarakat merupakan hasil bentuk kekerasan yang sifatnya non-fisik, karena terdapat proses seleksi seseorang berdasarkan standar kecantikan yang ada. Apabila seseorang tidak memenuhi kriteria tersebut, maka mereka akan dikritik oleh orang-orang dan tentunya memunculkan rasa rendah diri. Sementara di sisi lain, mereka yang memiliki Beauty Privilege akan diprioritaskan dan lebih mudah untuk diterima dan dihargai di masyarakat.

Meskipun fenomena ini bukan hanya berdampak pada mereka yang dianggap kurang menarik, tetapi juga ikut berdampak pada mereka yang masuk ke dalam kategori menarik. Dengan adanya stigma yang muncul di masyarakat bahwa mereka yang berpenampilan menarik akan lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan, nyatanya justru membuat mereka harus bekerja lebih baik dan serius untuk membuktikan bahwa mereka diterima bukan hanya karena mengandalkan penampilan, melainkan benar-benar mampu melakukannya (Nurbaiah dan Hanami, 2025). Selain itu, bukan rahasia lagi bahwa masih banyak orang-orang berpenampilan menarik di luar sana yang mengalami pelecehan karena penampilan mereka yang menarik.

Beauty Privilege merupakan suatu fenomena yang hadir dari standar kecantikan yang berkembang di masyarakat. Fenomena ini melibatkan penampilan seseorang dalam penempatan kelas sosial mereka di masyarakat. Kehadiran Beauty Privilege menghadirkan diskriminasi dan stigma yang tidak hanya merugikan mereka yang dianggap kurang menarik, tetapi juga dapat merugikan mereka yang dianggap menarik. Nah, itu tadi penjelasan mengenai Beauty Privilege sebagai contoh dari Stratifikasi Sosial. Semoga penjelasan di atas dapat dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat untuk teman-teman LensaIPS!


Referensi 

Maunah, B. (2015). Stratifikasi Sosial Dan Perjuangan Kelas Dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan. TA’ALLUM, 3(1), 19–38.

Nurbaiah, S. & Hanami, Y. (2025). Women's Perception of Fading Benefits From Beauty Privilege Stereotypes. Sosioedukasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan dan Sosial, 14(1), 240–244.

Rohanah, S., Adhani, A., & Aini, S. (2022). Beauty Privilege Discrimination Analysis in the Field of Student Organizations. Proceedings of the International Conference of Social Science and Education (ICOSSED 2021), 190–194. 


Posting Komentar

© Lensa IPS. All rights reserved. Developed by Jago Desain