Akhir-akhir ini sosial media dihebohkan dengan fenomena anak muda yaitu “Citayam Fashion Week”. Fenomena ini berawal dari segerombolan anak remaja yang nongkrong di sekitar kawasan SCBD (Sudirman Central Business District). Remaja-remaja ini berasal dari daerah yang berbeda yaitu Depok, Bojong Gede, Citayam, Bogor, dan daerah di sekitar Jakarta lainnya. Sehingga muncullah kepanjangan SCBD yang bukan lagi Sudirman Central Business District melainkan kepanjangan dari Sudirman, Citayam, Bojong Gede, dan Depok.
![]() |
| (Foto oleh Lifestyle Kompas | kompas.com) |
Viralnya tongkrongan Sudirman Street ini berlanjut terus hingga bermunculan nama-nama remaja tongkrongan kawasan Sudirman yang terkenal seperti Kurma, Roy, Bonge, dan Jeje. Hingga banyak netizen yang menyebut mereka sebagai pentolan SCBD. Remaja-remaja tersebut dilirik oleh banyak netizen karena gaya berpakaian mereka yang fashionable. Hal inilah yang mengakibatkan munculnya istilah Citayam Fashion Week.
Jika dianalisis menggunakan teori sosial, fenomena ini sesuai untuk dianalisis dengan teori interaksionisme simbolik. Teori ini memiliki kesinambungan dengan pemikiran Weber mengenai tindakan sosial oleh individu yang didorong oleh hasil pemaknaan sosial terhadap lingkungan sekitarnya. Para remaja tersebut datang ke kawasan Sudirman dengan menggunakan outfit yang berasal dari brand yang berbeda-beda. Fashion yang mereka kenakan dianggap sebagai representasi atas diri mereka. Penciptaan makna tentang seperti apa dirinya, mereka tampilkan lewat fashion yang mereka kenakan. Pemaknaan orang lain yang menganggap fenomena ini adalah suatu hal yang keren dan kekinian yang membuat remaja lainnya melakukan tindakan sosial yang sama.
Sedangkan menurut teori interaksionisme simbolik menganalisis masyarakat berdasarkan makna subjektif yang diciptakan individu sebagai basis perilaku dan tindakan sosialnya. Individu dianggap bertindak berdasarkan apa yang diyakini dan bukan pada apa yang objektif. Suatu hal yang diyakini benar merupakan produk konstruksi sosial yang telah diintrepetasikan dalam konteks yang spesifik. Para remaja berbondong-bondong bergabung dalam Citayam Fashion Week karena mereka menganggap Citayam Fashion Week itu salah satu hal yang diyakini akan membuat mereka terlihat kekinian dan dipandang menarik oleh banyak masyarakat. Maka tindakan yang mereka lakukan didasarkan atas keyakinan mereka yang terbentuk dari konstruksi sosial. Fenomena Citayam Fashion Week ini bisa kita maknai sebagai budaya populer. Ajang adu outfit di kawasan Sudirman ini dipandang dalam kacamata Sosiologi sebagai sebuah pertukaran simbol untuk membentuk makna terhadap interaksi yang mereka lakukan.
