![]() |
| [Foto Oleh: DreamsTime] |
Apa Itu Bahasa?
Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang terorganisasi dalam bentuk satuan-satuan, seperti kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulis. Bahasa sebagai suatu sistem komunikasi adalah suatu bagian dari sistem kebudayaan, bahkan merupakan bagian inti kebudayaan.
Kebudayaan manusia tidak akan mungkin terjadi tanpa bahasa karena bahasa merupakan faktor utama yang menentukan terbentuknya kebudayaan. Begitu banyak fungsi bahasa terhadap kebudayaan, seperti sebagai sarana pengembangan kebudayaan, sarana pembinaan kebudayaan, jalur pembinaan kebudayaan, dan sarana inventarisasi kebudayaan. Oleh karena itu, bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan budaya manusia karena bahasa dan budaya memiliki hubungan kausalitas atau hubungan timbal-balik.
Antropologi Linguistik
Salah satu disiplin ilmu yang mempelajari mengenai bahasa yaitu, antropologi linguistik. Menurut Hymes (1963: 277) Antropologi Linguistik akan disajikan sebagai studi tentang bahasa, sumber budaya dan berbicara, praktik budaya, dan perbedaan praktis berisiko dalam menulis ulang sejarah. Antropologi Linguistik dan Etnolinguistik adalah bagian dari upaya sadar untuk mengkonsolidasikan dan mendefinisikan kembali studi bahasa dan budaya.
Sebagai bidang interdisipliner yang inheren, linguistik dan antropologi pada khususnya, memiliki tujuan umum memberikan pemahaman tentang berbagai aspek bahasa sebagai seperangkat praktik budaya, yaitu sebagai suatu sistem komunikasi yang memungkinkan representasi interpsikologis (antara individu) dan intra psikologis (dalam individu yang sama) dari tatanan sosial dan membantu orang menggunakan representasi tersebut untuk tindakan sosial konstitutif.
Apa Itu Bahasa Jaksel?
“Keminggris" atau bahasa Jaksel adalah gaya berbahasa dengan mencampurkan kata bahasa Inggris dalam kalimat berbahasa Indonesia tanpa susunan kata yang jelas dalam satu kalimat. Di Indonesia sendiri bahasa tersebut digunakan anak muda yang tinggal dan beraktivitas di Jakarta Selatan atau yang kerap disebut “Jaksel”. Bahasa Jaksel adalah simbol sosial di kalangan anak sekolah, mahasiswa, dan pekerja di daerah Jakarta Selatan. Fenomena ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda s/d orde lama yang mana istilah bahasa yang digunakan pada zaman itu adalah dengan mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Belanda atau sering disebut dengan istilah 'Kemlondo' atau kebelanda-belandaan.
Menurut Joss Wibisono, penulis yang selama ini lantang mengkritik, fenomena keminggris sudah nampak pada media 1980-an silam. Tetapi, jika melihat keminggris hari ini, dari kacamata awam, ada satu musabab utama: tak paham sejarah. Golongan keminggris kemungkinan besar tidak memahami betapa Soegondo Djojopoespito muda dan kawan-kawan begitu mendambakan suatu bahasa milik bangsa sendiri. Hingga akhirnya mereka mengikrarkan Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 silam. "Kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,"
Ikrar yang diucapkan para pemuda kala itu bukan sekadar kalimat yang terlontar spontan tanpa pikir panjang dari mulut manusia tertindas, melainkan upaya untuk membedakan diri dengan kaum penjajah. Lebih dari itu, ikrar Sumpah Pemuda juga mengandung semangat untuk menyatukan semua golongan dalam rangka menentang penjajah. Persatuan dan kesamaan tujuan hanya bisa terbentuk di antara berbagai golongan ketika sudah ada kesamaan identitas. Bahasa, bagi para pemuda pergerakan kala itu, merupakan salah satu media untuk membentuk identitas bersama demi mempersatukan seluruh golongan.
Referensi
Devianty, R. (2017). Bahasa sebagai cermin kebudayaan. Jurnal tarbiyah, 24(2).
Triyanto, T., Fauziyah, F. A., & Hadi, M. T. (2019). Bahasa sebagai pendidikan budaya dan karakter bangsa. Jurnal Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia, 1(1).
