Tindakan Indonesia Setelah Merdeka Menurut Soetan Sjahrir dalam Pamflet Perjuangan Kita

[Gambar: Wikipedia.org]

Identitas Sjahrir

Soetan Sjahrir merupakan perdana menteri pertama Indonesia dan dijuluki sebagai salah satu The Founding Fathers Indonesia. Dengan karir yang begitu cemerlang, Sjahrir bertugas untuk menyelesaikan sengketa antara Indonesia dengan Belanda yang berjalan selama 4 tahun, yaitu 1945-1949.  Namun naas baginya, Sjahrir terus dituduh menguntungkan Belanda selama Perjanjian Linggarjati diadakan. Padahal Sjahrir sudah mati-matian untuk terus berusaha mengamankan posisi Indonesia yang dipersempit oleh Belanda dalam perjanjian tersebut. Uniknya, Sjahrir tidak dituduh oleh Tentara Inggris dan para sekutunya sebagai kolaborator (orang yang bekerja sama) dengan Jepang pada saat itu, layaknya Soekarno dan Hatta.

Sjahrir selama di Belanda aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia sehingga ketika kembali ke Indonesia, bersama Hatta, mereka mendirikan PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia). Hingga pada akhirnya, hubungan Sjahrir dengan sang presiden, Soekarno, menjadi retak karena beberapa kejadian, yaitu sebab Pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera dan percobaan pembunuhan terhadap Soekarno, walaupun keikutsertaan Sjahrir dalam pembunuhan tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Pamflet Perjuangan Kita

[Gambar: Pribadi]

Pamflet tersebut berjudul Perjoeangan Kita (ejaan sekarang dibaca: Perjuangan Kita) yang ditulis oleh Soetan Sjahrir dan diterbitkan pada tahun 1945. Judul aslinya adalah Onze Strijd dalam bahasa Belanda, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa bahasa Inggris dan Indonesia.

Dalam pamflet yang telah ditulis, Sjahrir menjelaskan beberapa hal yang menurut beliau adalah hal yang perlu dimiliki oleh setiap negara yang baru saja menjalani revolusi negara (nasional). Mengenai dasar negara, sebutannya. Bukan dasar negara (ideologi). Pamflet ini menyoroti perihal kemiskinan, kekejaman, dan lain sebagainya yang dialami oleh rakyat, selepas Indonesia merdeka.

Mengapa begitu? Sebab rakyat sudah lama tergonjang-ganjing akibat penjajahan yang begitu lamanya, baik itu dilihat dari sisi penjajahan yang dilakukan Belanda maupun Jepang. Terlebih istilah “terkunci dari luar negeri” yang disebutkan Sjahrir perihal yang dilakukan oleh Jepang kepada rakyat Indonesia selama 3.5 tahun. Bahkan, Jepang berhasil menanamkan propaganda kepada pemuda sehingga tingkah laku sampai cara berpikirnya yang selalu mencontoh-contohkan Jepang karena secara tak sadar bahwa mereka ikut memengaruhi jiwa pemuda agar tidak benci kepada Jepang, termasuk sikap fasis yang juga tak lepas dari ajaran Jepang.

Ideologi yang masuk ke Indonesia juga tak lepas dari pandangan Sjahrir dalam pamflet ini, sehingga ia menilai bahwa pemahaman-pemahaman yang masuk tersebut dapat memengaruhi pandangan dunia internasional terhadap perjuangan bangsa. 

Pada pamflet ini, Sjahrir membagi menjadi 13 bab pembahasan, yaitu sebagai berikut.

  1. Keadaan Sehabis Perang Dunia Kedua

Pada bagian ini, Sjahrir menyoroti perihal kekuatan ekonomi dan militer pasca PDII, yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan Soviet-Rusland. Sjahrir berfokus terhadap Amerika Serikat – Inggris yang menanamkan keinginan mereka dalam berkehidupan ekonomi, yaitu kapitalis-imperialis. Akan tetapi, sebetulnya kedua negara tersebut mempunyai kelemahan, yaitu alat-alat penghasilan mereka rusak parah akibat perang sehingga bisa dikatakan kaum kapitalis ini lemah, bagi Sjahrir. Memang pada akhirnya, dunia akan berputar kepada 2 hal, yaitu kapitalisme atau sosialisme.

  1. Kedudukan Indonesia dalam Dunia Sekarang

Masih berhubungan dengan bab ke-1, bahwa Indonesia saat ini berada pada lingkungan kapitalis-imperialis Inggris-Amerika. Inggris dan Amerika adalah dua aktor besar dalam perkancahan dunia internasional pada saat itu (mungkin hingga saat ini) karena semua hal tentang Indonesia akan berkaitan dengan Inggris – Amerika. Contoh: Inggris ingin mengembalikan Indonesia pada Belanda. Sama halnya Amerika yang mengalahkan Jepang sehingga Indonesia bisa “terlepas” dari Jepang. Hal itulah yang disoroti Sjahrir, bahwa Indonesia tidak akan lepas dari ke-2 hal tersebut. Lagipula menurut Sjahrir, kemerdekaan yang telah dijalani adalah kemerdekaan dari atas nama saja, bukan sepenuhnya.

  1. Revolusi Kerakyatan

Terdapat 2 pandangan mengenai revolusi menurut Sjahrir, yaitu bersifat ke luar yang dinamakan revolusi nasional dan bersifat ke dalam yang dinamakan revolusi kerakyatan. Sjahrir menyoroti perihal sikap feodal lestarian Belanda yang merupakan kepanjangan tangan dari sikap fasis. Maksudnya, feodalisme yang dilestarikan Belanda sehingga orang-orang desa dianggap budak-belian, baik dari kaum ningrat ataupun pandangan si penjajah, yaitu Belanda. Namun, Sjahrir mewanti-wanti agar tidak menyamakan revolusi yang dilakukan Prancis sama dengan revolusi nasional-kerakyatan yang seharusnya dilakukan oleh Indonesia yang baru saja merdeka karena hal itu disebabkan perbedaan zaman antara keduanya.

  1. Revolusi Nasional

Pada bagian bab ini, Sjahrir menyoroti perihal sikap nasionalisme, tetapi sikap feodal pun juga ditunjukkan oleh warga negara, yaitu solidarisme-feodal. Seharusnya yang dilakukan Indonesia adalah revolusi demokrasi dalam arti yang sesungguhnya karena revolusi demokrasi adalah kepala ekor dari revolusi nasional.

  1. Revolusi dan Pembersihan

Sjahrir menyebut bahwa negara ini harus dipimpin oleh revolusioner yang demokratis, bukan yang nasionalistis yang membudak kepada fasis-fasis, seperti Belanda atau Jepang. Bahkan Sjahrir, menyoroti perihal pengkhianat bangsa yang merupakan orang-orang yang membudak kepada penjajah karena dianggap sudah berdosa kepada perjuangan dan revolusi kerakyatan.

  1. Revolusi dan Partai

Partai yang revolusioner wajib membentengi dirinya agar tidak tergerus oleh pihak lain. Sjahrir menyarankan agar pemimpin tersebut adalah pemimpin yang berpengetahuan tinggi dan berpengalaman tentang perjuangan revolusioner.

  1. Revolusi dan Pemerintahan

Pemerintahan seharusnya dapat mendemokratisasi agar dapat mengecilkan sekat ataupun jurang yang berada pada rakyat. Namun, yang diinginkan Sjahrir adalah politik yang mengizinkan alam kapitalis masuk ke Indonesia, tetapi dengan batas tertentu, seperti persyaratan menguntungkan Indonesia.

  1. Memperjuangkan Isi Kemerdekaan

Sjahrir menekankan bahwa kemerdekaan yang diperoleh oleh Indonesia bukanlah nama dan kehormatan semata, melainkan harus kemerdekaan yang berisi. Negara yang penuh isi dengan demokratis sehingga diwanti-wanti oleh Sjahrir bahwa kemerdekaan yang diperoleh kadangkali adalah kemenangan yang kosong.

  1. Pembencian Bangsa Asing

Permusuhan-permusuhan yang terjadi di Indonesia pada masa awal kemerdekaan adalah sebuah hal yang salah dan merusakkan perjuangan kerakyatan yang dilakukan. Sikap Jibaku (membunuh orang lain – bunuh diri) yang dilakukan adalah karena nafsu kebangsaan yang dikiranya adalah sebuah kekuatan. Justru kekuatan yang disebutkan Sjahrir adalah rasa keadilan dan kemanusiaan sehingga tidak terbatas pula pada warna kulit, darah, dan lain sebagainya. Menurut Sjahrir, oleh karenanya sikap tersebut harus didasarkan pada kemasyarakatan, penyelidikan yang jujur, dan perhitungan di dalam yang berbakti kepada cita-cita kemanusiaan dan keadilan sosial.

  1. Kaum Buruh

Kaum buruh adalah titik vital dalam perjuangan pertahanan negara Indonesia merdeka, tetapi semangat kebangsaan yang meluap-luap terhadap kedudukan masyarakat kapitalisme yang ditakutkan akan terhasut kepada jalan yang salah dan merusak kedudukan buruh karena dapat dihasut oleh golongan masyarakat lain. Oleh karenanya, kaum buruh dapat memperbaiki namanya tersebut, salah satunya melalui pendidikan kaum buruh yang berarti menciptakan kesadaran dan pengertian perjuangan internasional dalam menyusun dunia yang realistis.

  1. Pak Tani

Revolusi kerakyatan harus dapat dirasakan oleh Pak Tani agar tidak diganggu oleh orang-orang yang menguntungkan diri mereka sendiri. Sjahrir berharap bahwa pemerintah desa bisa melakukan sikap kerakyatan yang sempurna sehingga dapat menaikkan derajat kehidupan.

  1. Pemuda

Sjahrir menyayangkan bahwa sikap revolusi yang dilakukan pemuda akan menjadi percuma jika semangat kebangsaannya tersebut tidak diisi oleh semangat kerakyatan dan kemasyarakatan, termasuk soal pemuda yang harus memimpin perjuangan kemerdekaan adalah suatu kekeliruan yang besar karena tenaga perjuangan juga berada pada rakyat banyak. Begitupun juga soal perjuangan militer adalah sebuah kekeliruan karena seolah-olah perjuangan harus dipimpin oleh orang militer.

  1. Tentara

Sjahrir mengukur perihal militer dan mengkritisi beberapa yang kurang dari militer, terutama perihal pendidikan militer pada saat Indonesia merdeka sehingga disarankan agar dapat mengundang orang dari dalam-luar negeri agar menjadi guru ataupun instruktur. Terutama mengenai amunisi yang harus dibuat-dibeli. Pada akhirnya, Sjahrir mengecam bahwa dengan memasuki ranah abdi negara/militer, jangan menjadi fasis dan militeris karena akan menghapuskan semangat revolusi kerakyatan.

[Gambar oleh Rizky Kusumo | Goodnewsfromindonesia.id]

Sjahrir menyoroti perihal semangat “merdeka atau mati”, tetapi justru tidak memberikan garansi akan keberhasilan yang seharusnya dicapai. Dikutip dari tulisan Hanif Setiawan dalam Jurnal AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah yang berjudul Sutan Sjahrir, Sosialisme, dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1927-1962, Sjahrir menunjukkan kritik keras kepada para pemuda dan pemimpin revolusioner saat itu. Hal itu diinginkan Sjahrir agar Indonesia berdiri dengan pondasi yang kokoh nan kuat, berprospek jauh ke depan dengan tidak melupakan situasi-situasi yang mendesak. Tentu dengan adanya Pamflet Perjuangan Kita, Sjahrir membuat terpojok setiap pemimpin dan pelopor yang membaca pamfletnya, terlebih pemimpin revolusioner Indonesia yang bekerja sama dengan pihak Jepang.

Pada zaman dahulu, hingga sekarang ini dan mungkin di saat masa depan nanti, pasti banyak yang merasa tertegun terhadap pemikiran-pemikiran yang dituliskan oleh Sjahrir. Bahkan dirinya dijuluki sebagai Bung Kecil karena pemikiran-pemikirannya.

Referensi

Sjahrir, Soetan. 2010. Perjoeangan Kita. Jakarta: Anjing Galak Penerbitan.

Setiawan, Hanif. (2020). Sutan Sjahrir, Sosialisme, dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1927-1962. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Vol. 9 (No. 1), hlm 1-10.

Politik, Pinter. (2021, 21 November). Sutan Sjahrir, Korban Kuasa Soekarno?. Pinterpolitik.com: https://www.pinterpolitik.com/sejarah/sutan-sjahrir-korban-kuasa-soekarno/

Kusumo, Rizky. (2021, 9 April). Sejarah Hari Ini (9 April 1966) - Wafatnya Sutan Sjahrir, Bung Kecil yang Berjiwa Besar. Goodnewsfromindonesia.id: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/04/09/sejarah-hari-ini-9-april-1966-wafatnya-sutan-sjahrir-bung-kecil-yang-berjiwa-besar

https://www.goodreads.com/book/show/3829207-perjuangan-kita

https://id.wikipedia.org/wiki/Perjuangan_Kita

Posting Komentar