![]() |
| [Foto oleh Howard Sochurek | LIFE] |
Latar Belakang
Indonesia mulai memperlihatkan jati diri sebagai negara demokrasi kepada dunia dengan peran dan kiprahnya menyelenggarakan KTT Asia Afrika pertama tahun 1955 dan sepak terjangnya di Asia Tenggara melalui pembentukan organisasi ASEAN tahun 1967. Membenahi sistem politik dan demokrasi Indonesia dapat dilihat dari bagaimana Indonesia menyelenggarakan Pemilu pertama pada tahun 1955 yang dikatakan sebagai pemilihan umum paling demokratis sepanjang sejarah politik Indonesia dan pembuktian kepada dunia bahwa bangsa Indonesia mampu menjalankan demokrasi.
Walaupun dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif dengan sering terjadinya tindakan separatis, bahkan saat berlangsungnya Pemilu, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri yang kemudian diganti oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, namun Pemilu yang memperebutkan 260 kursi DPR dan 520 kursi Konstituante ditambah 14 kursi khusus untuk wakil golongan minoritas itu berjalan dengan baik.
Tantangan dan Hambatan
Pemilihan Umum Indonesia 1955 merupakan pemilihan umum pertama yang diadakan di Indonesia pada 1955. Tentunya banyak tantangan yang harus di hadapi misalnya di Tahun 1955 Indonesia sedang mengalami kekacauan, di Madiun. Dimana tengah terjadi pemberontakan yang dilakukan kelompok DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo.
Informasi Data Pemilu 1955
Berikut adalah informasi data dari pelaksanaan Pemilu 1955:
Kursi yang di Perebutkan
Kursi yang direbutkan sebanyak 794 kursi, terdiri atas 260 untuk DPR dan 520 untuk konstituante atau dua kali lipat anggota DPR. Jumlah kursi masih ditambah 14 lagi untuk wakil golongan minoritas yang diangkat oleh pemerintah.
Total Jumlah Pemilih
Total pemilih adalah sebanyak 37.785.299 orang.
Total Partai yang Berpartisipasi
Pemilu 1955 diikuti oleh 172 parpol dengan 15 daerah pemilihan.
Partai Pemenang
Partai pemenang Pemilu 1955 adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan 8.434.653 suara (22,3%) dan 57 kursi, Masyumi dengan 7,903,886 suara (20,9%) dan 57 kursi, Nahdlatul Ulama dengan 6,955,141 suara (18,4%) dan 45 kursi, serta Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan 6,176,914 suara (16,4%) dan 39 kursi.
Alasan Dikatakan Paling Demokratis
Berikut ini beberapa alasan mengapa Pemilu tahun 1955 dikatakan sebagai proses Pemilu yang paling demokratis selama ini.
Tidak Ada Money politic
Menurut Totok selaku Kordiv Penyelesaian Sengketa Bawaslu Jatim “Setiap Pemilu mempunyai problem yang berbeda-beda. Pada Tahun 1955, Pemilu yang sangat sukses tidak terdapat money politik, intervensi dan kesewenang-wenangan oleh aparat. Bawaslu berusaha semaksimal mungkin membuat Pemilu ini lebih baik lagi. Salah satunya mencoba menarik semangat Pemilu tahun 1955 pada proses sekarang, sehingga harapannya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Salah satu faktor yang menjadikan suksesnya Pemilu 1955 yakni adanya semangat menentukan sikap sendiri serta semangat memperbaiki kondisi bangsa menuju arah baru setelah 350 tahun Indonesia dijajah asing”.
Tingkat Partisipasi Masyarakat yang tinggi
Pemilu 1955 dikenang sebagai Pemilu dengan tingkat partisipasif masyarakat paling tinggi hingga membuahkan Pemilu paling demokratis yang ditandai dengan pelaksanaan yang aman, lancar, jujur dan adil. Walaupun baru 10 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, namun kualitas kesadaran penduduk menggunakan hak pilihnya terlihat antusias. Orang rela menempuh jarak yang jauh untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), meski harus berjalan kaki atau menyeberang pulau.
Keberanian Indonesia Memulai Demokrasi
Herbert Feith dalam bukunya, "The Indonesian Election of 1955" mencatat, Pemilu ini digelar tanpa pengalaman berdemokrasi sebelumnya. Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) adalah penyelenggaranya, berisi orang-orang dari banyak partai. "Indonesia berani mempertaruhkan proses Pemilu pada tingkat kecerdasan para penduduk desa yang buta huruf, dan pertaruhan itu terbayar tunai," kata Irene Tinker dan Mil Walker, peneliti pemilu di Indonesia dan India, sebagaimana dikutip Feith.
