![]() |
| [Foto diambil dari Google] |
Fase Pertama (Sebelum 1800)
Terdapat pengaruh besar terhadap ketiga benua. Dimulai dari kedatangan bangsa Eropa Barat menuju daerah Benua Asia, Afrika, Amerika dan Oceania. Hal tersebut dilakukan untuk mengumpulkan kisah perjalanan tentang deskripsi adat istiadat, susunan masyarakat serta karakteristik dari keberagaman suku bangsa. Deskripsi tersebut menjadi daya tarik bagi para bangsa Eropa Barat yang melahirkan pandangan. Pandangan pertama, bangsa itu bukan manusia sebenarnya. Dalam artian manusia liar, hingga muncul istilah savages dan primitives. Pandangan kedua, makhluk yang belum kenal kejahatan dan masyarakat masih murni. Lalu terdapat ketertarikan tentang adat istiadat yang aneh serta mengumpulkan benda kebudayaan di Afrika, Asia, Oseania dan Amerika pribumi. Kumpulan tersebut dikumpulkan menjadi satu. Lalu muncul museum tentang kebudayaan bangsa di luar Eropa. Pada awal abad ke-19 bangsa diluar Eropa ingin mengintegrasikan seluruh himpunan pengetahuan etnografi menjadi satu.
Fase Kedua (Pertengahan Abad ke-19)
Bangsa Eropa telah dianggap sebagai bangsa yang berbudaya tinggi. Seluruh karangan etnografi disusun atas dasar pemikiran evolusi masyarakat. Masyarakat Eropa Barat pada saat itu memiliki pemikiran bahwa budaya akan terus berevolusi. Maka dalam fase ini mereka mulai mempelajari suatu masyarakat serta kebudayaan primitif dengan tujuan untuk mendapatkan sebuah pengertian terkait tingkatan sejarah evolusi maupun proses penyebaran budaya manusia tersebut.
Fase Ketiga (Permulaan Abad ke-20)
Beberapa negara penjajah di Eropa telah mencapai pada tingkatan kemantapan kekuasaan di daerah jajahan di luar Eropa. Maka dari itu ilmu antropologi menjadi penting dalam mempelajari bangsa di luar Eropa dengan tujuan untuk kepentingan pemerintah kolonial dalam mendapatkan suatu pengertian terkait masyarakat masa kini yang kompleks.
Fase Keempat (sesudah Tahun 1930)
Antropologi sudah berkembang baik dalam pengetahuan maupun metode ilmiahnya. Antropologi mulai melakukan penyelidikan di dalam lingkup masyarakat Eropa. Objek penelitian beralih pada manusia di daerah pedesaan dilihat dari sudut keragaman fisik, masyarakat serta kebudayaan, fokus utama yang dituju tidak hanya kepada penduduk desa di luar Eropa tetapi juga pada penduduk desa di Eropa. Pada fase ini ilmu antropologi terdapat dua tujuan akademikal sebagai pencapaian pengertian terkait manusia dengan mepelajari bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaan. Sedangkan tujuan praktis dengan mempelajari manusia dalam keragaman suku bangsa dengan maksud membangun suku bangsa itu sendiri. Kemudian, seiring berjalannya waktu, antropologi mengalami peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan material dan kemajuan dalam penjelasan metode ilmiah. Perkembangan ini memacu pada perkembangan aktivitas ilmiah baik di bidang sosial, fisika sosial dan melahirkan aliran positivisme yang diadvokasi oleh Auguste Comte. Aliran positivisme ini kemudian melahirkan banyak teori antropologi awal atau yang kemudian dikenal sebagai teori antropologi klasik.
Fase Kelima (Antropologi Masa Kini)
Ilmu antropologi masih tergolong muda sekitar satu abad sehingga ruang lingkupnya bersifat kompleks serta dijadikan sebagai pokok perbedaan dengan berbagai aliran yang ada dalam kalangan sendiri. Aliran dalam antropologi dapat dikategorikan di berbagai universitas seperti, Amerika Serikat, Inggris, Eropa Tengah, Eropa Utara, Uni Soviet dan negara berkembang.
Amerika Serikat, ilmu atropologi telah memperluaskan eksistensinya baik dalam metode di fase kesatu, kedua, ketiga serta berbagai cabang yang telah berkembang secara khas dalam mencapai pemikiran dasar keberagaman masyarakat budaya masa kini. Pada intinya di Amerika, universitas telah mengembangkan antropologi pada fase keempat secara menyeluruh.
Inggris dan negara di bawah pengaruh seperti Australia, ilmu antropologi menggunakan fase ketiga dan daerah jajahan Inggris hilang maka karakteristik ilmu antropologi berubah. Para sarjana Australia mengenal suku bangsa asli di Papua Nugini dan Kepulauan Melanesia untuk pemenuhan kepentingan jajahan apabila negara jajahan merdeka , para sarjana Inggris memperhatikan berbagai masalah yang lebih kompleks terkait dasar masyarakat dan budaya. Dalam hal ini di Amerika Serikat juga mulai berpengaruh di berbagai lapangan penelitian Inggris.
Eropa Tengah (Jerman, Austria dan Swiss), ilmu antropologi ditujukan dalam mempelajari bangsa di luar Eropa untuk memahami sisi sejarah dan kebudayaan manusia seperti fase kedua. Pengaruh ilmu antropologi dari Amerika sudah muncul pada ahli antropologi muda di Jerman Barat dan Swiss.
Eropa Utara (negara Skandinavia), Jerman dan Austria jadikan ilmu antropologi sebagai sisi akademikal serta terdapat temuan penelitian kebudayaan suku Eskimo dan para sarjana di Skandinavia menggunakan metode antropologi yang dikembangkan di Amerika Serikat.
Uni Soviet, melakukan sebuah penelitian serta hasil penelitian tersebut dijadikan sebagai pedoman pengambilan kebijakan tentang membangun masyarakat pribumi.
Indonesia, ilmu antropologi digunakan untuk menjelaskan masalah kemasyarakatan di Indonesia serta mengkaji tentang suku bangsa dimulai dari Sabang sampai Merauke. Hal ini bertujuan untuk mengenal budaya satu sama lain. Ilmu antrropologi yang digunakan di Indonesia sangat khusus karena hanya menentukan dasar antropologi sehingga belum terikat oleh tradisi yang kuat.
